Mencari inspirasi desain sering dimulai dari pertanyaan sederhana: mengapa sebuah lukisan terasa dramatis, bagaimana pakaian masa lalu dibentuk, atau apa yang membuat bangunan tertentu terlihat khas? Pembaruan Google Arts & Culture mencoba menjadikan rasa penasaran seperti itu sebagai pintu masuk, bukan mengharuskan pengguna sudah tahu nama seniman atau istilah sejarah seni.
Dalam pengumuman pada 28 September 2026, Google memperkenalkan pembaruan aplikasi selulernya untuk menandai usia layanan yang ke-15. Perubahan utamanya mencakup pencarian percakapan yang mengutamakan visual, beranda yang dirancang ulang, eksperimen AI interaktif, serta perluasan City Guide. Bagi pembaca yang menikmati budaya maupun bekerja dengan gagasan visual, daya tariknya adalah cara yang lebih mudah untuk menemukan referensi beserta konteksnya.
Bertanya dengan bahasa sendiri, mendapat konteks visual
Pusat pembaruan ini adalah pencarian percakapan. Pengguna dapat mengajukan pertanyaan tentang seni dan budaya dengan kata-kata sendiri. Menurut Google, jawabannya memadukan penjelasan, visual, dan cerita terkurasi dari arsip lembaga mitra. Pendekatan ini berbeda dari sekadar mengetik kata kunci lalu menelusuri deretan gambar tanpa tahu latar belakangnya.
Contoh yang diberikan Google cukup beragam: teknik terang-gelap Caravaggio, museum impresionis di Paris, gambar dari teleskop Webb, kotak bento, sampai kucing dalam karya seni. Ragam tersebut menunjukkan bahwa cakupan eksplorasinya tidak terbatas pada lukisan klasik. Pertanyaan tentang makanan atau sains pun dapat menjadi jalur menuju penemuan budaya.
Bagi orang yang belum akrab dengan kosakata seni, format percakapan berpotensi mengurangi hambatan awal. Rasa penasaran bisa didahulukan, kemudian istilah dan sejarah dipelajari dari materi yang ditemukan. Namun, pencarian visual di sini merujuk pada jawaban yang menyertakan visual; pengumuman tersebut tidak menjelaskan bahwa fitur ini bekerja dengan mengunggah foto untuk mengenali objek.
Referensi desain yang tidak berhenti pada warna
Google menyebut Arts & Culture telah bekerja sama dengan lebih dari 3.000 lembaga budaya dan seniman di lebih dari 90 negara selama 15 tahun. Arsip mitranya mencakup karya seni beresolusi tinggi, artefak arkeologi tiga dimensi, mode, seni pertunjukan, kerajinan, warisan kuliner, sejarah alam, sains, hingga desain.
Keragaman ini menarik untuk mencari inspirasi lintas bidang. Seorang pembuat materi promosi, misalnya, dapat mempelajari hubungan kontras dan suasana dalam lukisan. Pelajar desain dapat mengamati bagaimana bentuk pakaian berhubungan dengan zamannya. Itu merupakan contoh cara memanfaatkan koleksi, bukan janji bahwa aplikasi otomatis menghasilkan konsep desain siap pakai.
Nilai terpentingnya justru ada pada konteks. Alih-alih hanya menyimpan gambar karena terlihat menarik, pengguna bisa menelusuri siapa pembuatnya, dari mana asalnya, dan cerita apa yang menyertainya. Pemahaman tersebut membantu menghindari penggunaan motif budaya secara serampangan. Akses untuk melihat gambar juga tidak otomatis berarti izin memakainya dalam produk komersial; ketentuan pada sumber karya tetap perlu diperiksa.
Beranda baru dan dua eksperimen AI
Beranda baru menyatukan pengalaman aplikasi ke dalam satu linimasa untuk penemuan harian. Bagian-bagian modular menampilkan cerita budaya singkat, sorotan harian, serta akses langsung ke fitur interaktif. Untuk pengguna yang tidak datang dengan pertanyaan khusus, susunan semacam ini dapat menjadi titik awal menjelajah koleksi sedikit demi sedikit.
Dua eksperimen AI turut diperkenalkan. Chrono Look memungkinkan pengguna mencoba busana bersejarah secara virtual melalui sketsa dan visualisasi realistis. Sementara itu, Dial-an-Artist menawarkan percakapan simulasi dengan tokoh sejarah mengenai karya mereka. Keduanya memberi pendekatan yang lebih interaktif daripada hanya membaca deskripsi.
Kata “simulasi” penting diperhatikan. Percakapan tersebut bukan wawancara asli, dan hasil visual AI bukan dokumentasi sejarah. Keduanya lebih tepat dipakai untuk memancing pertanyaan lanjutan, lalu dibandingkan dengan penjelasan kuratorial atau sumber sejarah. Dengan begitu, unsur bermain tetap menyenangkan tanpa menggantikan ketelitian saat belajar.
City Guide menghubungkan koleksi dengan perjalanan
Pembaruan ini juga memperluas City Guide dengan 27 destinasi baru. Menurut pengumuman Google, panduan tersebut menampilkan tempat penting bagi budaya setempat dan informasi acara budaya secara waktu nyata. Fitur ini menawarkan jembatan antara penjelajahan melalui layar dan keinginan memahami kehidupan budaya di sebuah tempat.
Bagi wisatawan, panduan budaya dapat membantu menyusun daftar tempat yang sesuai minat, bukan hanya mengikuti lokasi paling populer. Bagi pencari inspirasi, arsitektur, pameran, dan cerita lokal dapat menjadi bahan pengamatan. Meski demikian, rincian jam buka, tiket, serta perubahan jadwal sebaiknya tetap dikonfirmasi melalui pengelola tempat atau penyelenggara acara sebelum berangkat.
Apa yang perlu diperhatikan pengguna Indonesia?
Google menyatakan pembaruan mulai diluncurkan secara global pada 28 September melalui Google Play dan Apple App Store. Pengumuman itu tidak memastikan seluruh fitur langsung tersedia bagi setiap pengguna Indonesia, tidak merinci dukungan bahasa Indonesia, dan tidak menyebut daftar lengkap destinasi baru. Karena itu, ketersediaannya perlu dilihat pada aplikasi dan informasi toko aplikasi masing-masing.
Cara paling berguna untuk memulainya adalah membawa satu pertanyaan yang benar-benar menarik, membuka materi terkait, lalu mencatat referensi beserta sumbernya. Pembaruan ini bukan pengganti museum, buku sejarah, atau pengalaman berkunjung langsung. Namun, pencarian yang lebih ramah dan jawaban dengan konteks visual dapat menjadi awal yang baik untuk melihat budaya sebagai sumber pengetahuan sekaligus inspirasi desain.
Referensi
Google: Google Arts & Culture turns 15 — and gives its app a makeover, 28 September 2026.
Foto sampul: Andrew Neel / Unsplash. Ilustrasi.
Buka Akses Artikel Member
Artikel ini gratis untuk seluruh member terdaftar. Silakan masuk atau daftarkan akun baru secara gratis untuk membaca materi lengkap.
Artikel Premium Eksklusif
Materi ini dikhususkan bagi pembeli produk digital. Masuk ke akun Anda untuk memverifikasi lisensi akses.
Akses Premium Diperlukan
Beli salah satu produk digital kami untuk membuka akses penuh ke seluruh perpustakaan artikel premium.